Merangkaklah....
Ya.... Merangkak....
Merangkak sama sekali bukanlah perbuatan yang hina,
Merangkak bukanlah pula merupakan pertanda ketidak mampuan seorang manusia,
Bisa saja merangkak dilakukan seseorang karena dia takut tersungkur dari posisi yang lebih tinggi pada saat dia berdiri,
Bisa pula seorang manusia merangkak karena mempunyai harapan untuk bertumpu lebih kokoh di atas kedua tangan dan kedua lututnya,
Merangkak bukanlah suatu ketidak mampuan yang abadi bagi seorang bayi,
Orang tua pastilah akan sangat bahagia melihat anaknya telah mampu merangkak.
Begitupun juga....
Merangkakku ini bukanlah karena ketidak mampuanku,
Aku masihlah mampu berjalan,
Aku masihlah mampu pula untuk berlari,
Aku merangkak karena aku berhati-hati,
Aku merangkak karena aku ingin lebih mewaspadai lubang-lubang kebohongan yang menghadang jalan hidupku,
Aku merangkak karena aku tidak berharap lagi bertemu dengan tipu muslihat,
Aku merangkak karena tidak ingin jatuh tersungkur di saat aku berlari secepat yang kumampu,
Aku.....
Ya.... Akulah yang pernah tersungkur itu,
Bertahun-tahun adalah waktu yang bukan sekejap,
Bertahun-tahun itu pulalah waktu yang aku butuhkan untuk bisa menyadari kalau aku telah terjatuh dalam kubangan tipu muslihat,
Sungguh....
Sutradara yang sangatlah terlalu pintar dalam mengolah alur cerita,
Yang membuatku sebagai pemeran utama barulah menyadari akan sandiwara ini,
Bapak.....
Dengan restumu aku menjalani kisah ini,
Dengan restumu pulalah aku akan mengakhiri kisah ini,
Restu yang telah engkau berikan sebelum Sang Khaliq memanggilmu,
Aku tak akan meninggalkan kubangan ini dengan berlari,
Aku akan merangkak dengan sabar dan hati-hati,
Walaupun Teman, Kawan, Rekan, bahkan Saudarapun telah berada jauh di depan meninggalkanku,
Aku akan tetap bersabar....
Akan kulalui takdirku dengan penuh kesabaran,
Ya Allaah ampunilah aku,
Aku adalah manusia yang paling kau benci,
Tapi aku sangatlah sadar bahwa Engkau tetaplah menyayangiku,
Bismillaahirrahmaanirrahiim.......
Pinggirmblumbang@021118